Friday, March 8, 2019

KOMPOSIT PADA LOW COST GREEN CAR



LCGC adalah singkatan dari Low Cost Green Car.Secara harafiah berarti mobil murah ramah lingkungan’. LCGC berada di bawah payung hukum Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 2013, bersama-sama dengan low carbon emission, mobil listrik, hybrid biodiesel. Secara spesifik, keberadaan LCGC diatur di Permenperin No 33/2013.




Berikut beberapa persyaratan mobil LCGC :
  • Hemat energi
  • Harga terjangkau
  • Menggunakan tambahan merek Indonesia
  • Model dan logo yang mencerminkan Indonesia

Spesifikasi mesin :
  • Bensin = maksimum 1200cc, minimal 1 liter BBM untuk 20 km.
  • Solar = maksimum 1500cc, minimal 1 liter BBM untuk 20 km.

Kelemahan atau Kekurangan LCGC
  1. Tenaga : Sebagian besar mobil-mobil LCGC dibekali dengan mesin berkapasitas sekitar 1000 hingga 1200 cc. Kapasitas tersebut tergolong kecil jika dibanding dengan kapasitas mesin mobil lain yang non LCGC. Jadi tidak heran jika tenaga atau power yang dihasilkan oleh mobil LCGC masih tergolong rendah jika dibanding tenaga atau power yang dihasilkan oleh mobil Avanza ataupun Xenia.
  2. Bobot : Hampir semua mobil LCGC memiliki bobot ringan. Kondisi tersebut tentu merupakan sebuah kelemahan atau kekurangan dari mobil ini. Sebab denga bobot yang ringan, mobil akan terasa oleng ketika dikendarai dengan kecepatan tinggi atau ketika berpapasan dengan kendaraan lain yang berukura besar seperti bus atapun truk.
  3. Keberadaan Fitur Keselamatan : Meskipun syarat yang harus dipenuhi agar sebuah mobil bisa masuk kategori LCGC, tapi keberadaan fitur keselamatan penumpang bukan merupakan syarat yang harus dipenuhi. Jadi tidak heran jika beberapa tipe terendah dari mobil-mobil LCGC tidak disertai dengan fitur-fitur keselamatan seperti Airbag ataupun Sistem pengereman ABS.
Sumber : 
A smart repair system for polymer matrix composites, S.M. Bleay, January 2001
Green composites: A review of adequate materials for automotive application, G Kronis, Desember 2011
Takeo Nakagawa, Recent Development in Auto Body Panel Forming Technology, Tokyo

Friday, February 22, 2019

INFO BEASISWA LPDP


Go Green!🍃🍃🍃
Go Chemical Engineering!✊🏻✊🏻✊🏻

Halo sahabat Tekinik Kimia Polimer, bertemu lagi dengan kami di sini untuk memberikan berbagai informasi-informasi terkini. Kali ini kami ingin memberikan informasi menarik untuk kalian yang suka kalian cari, kira-kira apatuh?

Iya betul Beasiswa LPDP. Apa sih Beasiswa LPDP? 
Beasiswa Magister dan Doktor dari LDPM (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) adalah program beasiswa yang di biayai oleh pererintah Indonesia melalui pemanfaatan Dana Pengenmbang Pendidikan Nasional (DPPN) yang dikelola Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, Kementrian Keuangan RI untuk studi program Magister dan Doktor.

Sasaran bantuan program beasiswa ini adalah Warga Negara Indonesia yang berkemampuan akademik dan kepemimpinan yang tinggi dan lolos proses seleksi untuk melaksanakan studi pada program Magister dan Doktor. Bidang ilmu program beasiswa Magister dan Doktor LPDP adalah bidang ilmu yang menjadi focus LPDP yang terdiri atas:
  1. Teknik
  2. Sains
  3. Pertanian
  4. Akuntansi dan Keuangan
  5. Hukum 
  6. Agama
Jika kalian tertarik dan ingin tau bagai mana cara mendaftar Beasiswa LPDP dalam Negeri maupun Luar Negeri , yuk langsung kunjungi link yang tertera di bawah ini.




Monday, December 10, 2018

Struktur Organisasi Badan Pengurus Harian Ikatan MAhasiswa Teknik Kimia (IMTEK) Politeknik STMI Jakarta Periode 2018-2019




Badan Pengurus Harian periode 2018-2019,  memiliki tugas dan kewajiban yang wajib dilaksanakan hingga waktu yang telah ditentukan. Untuk menikmati kesuksesan harus dapat selalu berjuang sengan totalitas, tetapi yang lebih penting adalah dapat belajar dari kegagalan. Bersamaan dengan perubahan struktur organisasi, maka penamaan kabinet menjadi kabinet pergerakan romansa dengan harapan yang didasari dari yang berciri khas tindakan kepahlawanan, kehebatan, dan keromantisan dengan latar historis atau imajiner. Dan semoga dengan perubahan struktur anggota dapat membawa perubahan yang nyata bagi seluruh anggota IMTEK.

Wednesday, September 26, 2018

Campus Green Visit

Halo sahabat Teknik Kimia Polimer, bertemu lagi dengan kami di sini untuk memberikan berbagai informasi-informasi terkini seputar Teknik Kimia Polimer dan kegiatan Ikatan Mahasiswa Teknik Kimia (IMTEK).

Kali ini, teman-teman dari Hima Ankim AKA Bogor datang berkunjung ke Politeknik STMI Jakarta, nih. Kunjungan teman-teman ini kami namakan “CAMPUS GREEN VISIT”.


Apa aja sih yang dibahas dalam CAMPUS GREEN VISIT ini?

Nah, acara yang diselenggarakan pada Sabtu, 8 September 2018 ini bisa dikatakan studi banding antara Hima Ankim AKA Bogor dengan IMTEK Politeknik STMI Jakarta. Sudi banding ini bertujuan bukan hanya untuk saling bertukar informasi, tapi juga untuk mengeratkan persaudaraan antar mahasiswa Teknik Kimia.









Informasi-informasi yang didapat berasal dari sharing. Ada waktu dimana saling memperkenalkan himpunan masing-masing serta keanggotaan. Ada pula saling memberikan informasi tugas dan kewajiban masing-masing departemen.

Acara ini sungguh menyenangkan dan sangat bermanfaat.









Terima kasih untuk teman-teman Hima Ankim AKA Bogor yang telah datang berkunjung ke Politeknik STMI Jakarta dan saling bertukar pikiran dengan kami! Semoga apa yang sudah kita sharing dan jalin dapat bertahan serta daapt berguna dimasa yang akan datang!
GO GREEN! GO CHEMICAL ENGINEERING!

Thursday, May 10, 2018

POLIMERISASI


  • Pengertian Polimer
Polimer adalah proses bereaksinya monomer hingga membentuk jaringan atau rantai polimer. Polimerisasi berlangsung dalam fase gas, cair dan padat, semakin besar berat molekul, bentuk polimer cenderung mengetal hingga memadat.

  • Klasifikasi Polimer
- Berdasarkan Sumber atau Asal


1. Polimer Alam
Jenis polimer ini terdapat dalam alam, yaitu pada hewan dan tumbuhan. sebagai contoh adalah protein, selulosa dan karet. Polimer alam biasanya terbentuk oleh proses polimerisasi kondensasi.

2. Polimer Semi Sintetis
Polimer semi sintetis biasanya bahasa lain dari turunan polimer alam. Contohnya saja selulosa asetat adalah turunan selulosa yang terbentuk dari asetilasi selulosa dan digunakan untuk membuat kaca dan film.

3. Polimer Sintetis
Polimer sintetis adalah polimer yang dibuat oleh manusia dan sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti serat, plastik dan karet buatan. Polimer sintetis biasanya terbentuk oleh polimerisasi adisi,


- Berdasarkan Struktur Rantai

1. Polimer Linear, yakni jenis polimer yang tersusun satu sama lain melalui unit ulang yang sama sehingga membentuk rantai polimer yang panjang. Polimer ini biasanya bersifat padat pada temperatur normal dan bisa larut dalam beberapa pelarut. Contohnya yaitu PVC, Polietilena, Nylon 66, dan sebagainya.

2. Polimer Bercabang, yakni jenis polimer yang terbentuk bola polimer linear membentuk cabang.

3. Polimer Ikat Silang, yakni jenis polimer yang terbentuk karena adanya rantai linear yang terhubung satu dengan yang lain oleh ikatan kovalen di berbagai tempat.

4. Polimer Berikatan Silang, yakni jenis polimer yang terbentuk karena beberapa rantai polimer saling berikatan satu sama lain pada rantai utamanya. Bila sambungan silang polimer terjadi dengan ikatan kimia antara rantainya akan terbentuk sambung silang tiga dimensi yang sering disebut polimer jaringan tiga dimensi (three-dimension network).


- Berdasarkan Gaya Intermolekuler

1. Termoplastik
Polimer yang melunak bila dipanaskan dan dapat dibentuk ulang. Termoplastik mempunyai gaya intermolekuler yang sedang. Polimer termoplastik jika mempunyai struktur linear bertekstur keras, sedangkan jika bercabang akan lunak. Pada saat dipanaskan, termoplastik akan menjadi lembut dan kembali mengeras saat didinginkan.

2. Termoset
Polimer yang tidak melunak bila dipanaskan sehingga tidak dapat dibentuk ulang. Tidak seperti termoplastik, termoset dapat mengalami perubahan komposisi kimia saat mengalami pemanasan. Jika dipanaskan, termoset akan mengeras dan tidak bisa lembut seperti sedia kala.

3. Elastomer
Polimer yang dapat mulur jika ditarik, tapi akan kembali seperti semula jika gaya tarik ditiadakan. Mempunya gaya tarik-menarik paling lemah. Bentuk elastomer adalah amorf, dengan derajat elastisitas yang tinggi. Elastomer mempunyai kekuatan untuk memanjang sepuluh kali lipat panjang semua dan kembali lagi ke bentuk asal.


- Berdasarkan Sifat Alami Monomer

1. Homopolimer
Polimer yang tersusun atas monomer yang sama atau sejenis.

… – A – A – A – A – A – A … .


2. Kopolimer
Polimer yang tersusun atas polimerisasi monome yang berbeda jenis membentuk suatu polimer.


a) Kopolimer acak, kopolimer yang mempunyai sejumlah satuan berulang yang berbeda, tersusun secara acak dalam rantai polimer.

… – A – B – A – A – B – B – A – A – …
b) Kopolimer silang, kopolimer yang mempunyai beberapa satuan ulang yang berbeda dan berselang-seling dalam rantai polimer.

… – A – B – A – B – A – B – A – B – …
c) Kopolimer balok (blok), kopolimer yang mempunyai suatukesatuan berulang berselag-seling dengan kesatuan berulang lainnya dalam rantai polimer.

… – A – A – A – A – B – B – B – B – A – A – A – A – …
d) Kopolimer tempel/grafir, kopolimer yang mempunyai satu macam kesatuan berulang yang menempel pada polimer lurus yang terdapat satu macam kesatuan berulang dari satu jenis monomer.


  • Reaksi Polimerisasi
Polimerisasi merupakan reaksi kimia dimana monomer-monomer bereaksi membentuk rantai yang besar. Berdasarkan reaksi pembentukannya, polimerisasi dibedakan atas polimerisasi adisi dan polimerisasi kondensasi.


Suatu polimer adisi memiliki atom yang sama sepertu monomer dalam unit ulangnya, sedangkan polimer kondensasi mengandung atom-atom yang lebih sedikit karena terbentuk produk samping selama berlangsungnya proses polimerisasi.

1. Polimerisasi Adisi
Polimerisasi adisi umumnya terjadi pada monomer yang mempunyai ikatan rangkap. umumnya monomer yang direaksikan dalam polimerisasi adisi adalah alkena dan turunannya. Dari reaksi polimerisasi adisi dihasilkan polimer adisi sebagai produk tunggal. Contoh reaksi polimerisasi adisi adalah teflon yang terbentuk dari monomer-monomernya tetrafluoroetilen. Contoh lain adalah monomer etilena mengalami reaksi adisi membentuk polietilena yang digunakan sebagai tas plastik, pembungkus makanan dan botol.


Monomer-monomer yang mengandung ikatan rangkap dua saling bergabung membentuk rantai panjang.

Produk yang dihasilkan dari reaksi polimerisasi adisi mengandung semua atom dari monomer awal. Jadi polimer adisi adalah polimer yang terbentuk dari reaksi polimerisasi disertai dengan pemutusan ikatan rangkap diikuti oleh adisi dari monomer-monomer yang membentuk ikatan tunggal. Dalam reaksi ini tidak disertai terbentuknya molekul-molekul kecil seperti H2O atau NH3.

Pada rekasi polimerisasi adisi, umumnya melibatkan reaksi rantai. Mekanisme polimerisasi adisi dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu :
- Tahap Inisiasi, tahap pembentukan pusat-pusat aktif.


Pada langkah ini, inisiator biasanya mengadisi karbon yang paling kurang tersubstitusi dari monomer yaitu gugus CH2.
- Tahap Propagasi, tahap pembentukan rantai melalui adisi monomer secara kontinu.


Pada tahap ini, rantai dapat terjadi dengan cara yang sama seperti inisiasi, sehingga unit monomer terhubung secara kepala ke ekor dengan subtituen pada atom karbon yang berseling. Propagasi rantai dapat berlanjut dari beberapa ratus sampai beberapa ribu monomer terhubung. Di mana pada tahap ini dipengaruhi faktor yang sama yaitu suhu, tekanan, pelarut, dan konsentrasi monomer.

- Tahap Terminasi, tahap deaktivasi pusat aktif.
Pada tahap ini, terjadi dua reaksi penamatan rantai yang umum yaitu penggandengan radikal dan disporporsional radikal dengan reaksi sebagai berikut.


Adapun pada disporpoorsional sebagai berikut.


Pada tahap terminasi, radikal dimusnahkan dan tidak ada radikal baru yang muncul,

a) Radikal Bebas
Radikal bebas biasanya dibentuk melalui penguraian zat kurang stabil dengan energi tertentu. raduka bebas menjadi pemicu  pada polimerisasi. Zat pemicu berupa senyawa peroksida, seperti dibenzoil peroksida dan azodiisobutironitril.
Jika radikal bebas dinyatakan dengan R dan molekul monomer dinyatakan dengan CH2=CHX makan tahap pemicuan dapat digambarkan sebagai berikut.

R• + H2C = CHX → R – CH2 – CHX•

Tahap perambatan adalah perpanjangan (elongasi) radikal bebas yang terbentuk pada tahap pemicu dengan monomer-monomer lain:

R – CH2 – CHX• + CH2=CHX → R – CH2 – CHX – CH2 – CHX•

Tahap pengakhiran dapat terjadi dengan cara berikut.

atau melalui reaksi disporposionasi:

Laju polimerisasi dapat dikendalikan dengan menggunakan zat penghambat (anhibitor) dan pelambat (retarder). Penghambat bereaksi dengan radikal bebas ketika radikal bebas terbentuk. Polimerisasi tidak akan berlanjut sebelum seluruh zat penghambat habis terpakai.

Kuinon dapat bertindak sebagai zat penghambat bagi banyak sistem polimerisasi sebab kuinon bereaksi dengan radikal bebas menghasilkan radikal yang mantap akibat resonansi. Radikal bebas yang mantap ini tidak dapat memicu polimerisasi lebih lanjut.

Zat pelambat yang biasa digunakan adalah gas oksigen. Gasi ini kurang reaktif dibandingkan dengan penghambat. Cara kerja zat penghambat adalah melalui persaingan dengan monomer untuk bereaksi dengan radikal bebas sehingga laju polimerisasi menurun. Persamaannya :


b) Polimerisasi Ionik
Polimerisasi adisi dapat terjadi melalui mekanisme yang tidak melibatkan radikal bebas. Dalam hal ini, pembawa rantai dapat berupa ion karbonium (polimerisasi kation) atau ion karbonion (polimerisasi anion).

Dalam polimerisasi kation, monomer pembawa rantai adalah ion karbonium. Katalis untuk reaksi ini adalah asam Lewis, seperti AlCl3, BF3, TiCl4, SnCl4, H2SO4dan asam kuat lainnya.

Polimerisasi radikal bebas memerlukan energi atau suhu tinggi, sebaliknya polimerisasi kation paling baik dilakukan pada suhu rendah. Misalnya, polimerisasi 2-metilpropena berlangsung optimum ada -100 oC dengan adanya katalis BF3 atau AlCl3.

Polimerisasi kation terjadi pada monomer yang memiliki gugu yang mudah melepaskan elektron. Dalam polimerisasi yang dikatalis oleh asam, tahap pemicuan dapat digambarkan sebagai berikut.
HA adalah molekul asam sepeti HCl, H2SO4, dan HClO4. Pada tahap pemicuan, proton dialihkan dari asam ke monomer sehingg amenghasilkan ion karbonium (C+).

Perambatan berupa adisi monomer terhadap ion karbonium, prosesnya hampir sama dengan perambatan pada radikal bebas.

Pengakhiran rantai dapat terjadi melalui berbagai proses. proses paling sederhana adalah penggabungan on karbonium dan anion pasangannya (disebut ion lawan).

Dalam polimerisasi anion, monomer pembawa rantai adalah suatu karbanion (C-). Dalam hal ini, monomer pembawa rantai adalah yang memiliki gugus dengan keeletronegatifan tinggi, seperti propenitril (akrilonitril), 2-metilpropenoat (metil metakrilat), dan feniletena (stirena).

Seperti polimerisasi kation, reaksi polimerisasi anon optimum pada suhu rendah. Katalis yang dapat dipakai adalah logam alkali, alkil, aril, dan amida logam alkali.

Contohnya adalah kalium amida (KNH2) yang dalam pelarutn amonia cair dapat mempercepat polimerisasi monomer CH2=CHX dalamm amonia. Kalium amida akan terionisasi kuat sehingga dapat berlangsung seperti berikut.

Perambatan merupakan adisi monomer pada karbanion yang dihasilkan, yaitu :


Proses pengakhiran pada polimerisasi anion tidak begitu jelas seperti pada polimerisasi kation sebab penggabungan rantai  anion dengan ion lawan  tidak terjadi. Namun demikian, jika terdapat sedikit air, karbon dioksida, atau alkohol akan mengakhiri pertumbuhan rantai.

2. Polimerisasi Kondensasi
Polimerisasi Kondensasi terjadi dari reaksi antara gugus fungsi pada monomer yang sama atau monomer yang berbeda. Pada polimerisasi ini kadang disertai dengan terbentuknya molekul kecil seperti H2ONH3, atau HCl. Pada reaksi kondensasi ini, monomer-monomer bereaksi secara eliminasi untuk membentuk rantai. Pada reaksi semacam ini, tiap monomer harus mempunyai dua gugus fungsional.

Suatu atom hidrogen dari satu ujung monomer bergabung dengan gugu -OH dari ujung monomer yang lainnya untuk membentuk air. Contoh reaksi polimerisasi kondensasi adalah pembuatan nilon dari monomer yang berbeda yaitu 1,6-diaminoheksana dan asam adipat.


Nilon diberi nama menurut jumlah atom karbon pada setiap unit monomer. Oleh karena terdapat atom karbon di setiap monomer, maka jenis nilon ini disebut nilon 66. Contoh lain polimerisasi kondensari adalah dacron, yang digunakan sebagai pakaian dan karpet, pendukung pada tape-audio dan tape-video, serta kantong plastik. Monomer yang dapat mengalami reaksi polimerisasi secara kondensasi adalah monomer-monomer yang mempunyai gugus fungsu seperti gugus -OH, -COOH, dan NH3


Sumber : 
http://www.nafiun.com/2013/10/klasifikasi-polimer-sintetis.html
http://www.gurupendidikan.co.id/polimer-pengertian-sifat-klasifikasi-dan-jenis-beserta-contohnya-lengkap/
https://www.ilmukimia.org/2013/03/klasifikasi-polimer.html
https://www.studiobelajar.com/polimer/
http://www.nafiun.com/2013/10/reaksi-polimerisasi-pembentukan-polimer.html

Saturday, April 14, 2018

Focus Grup Diskusi

Focus Grup Diskusi (FGD) adalah suatu wadah dimana para peserta saling bertukar informasi dan pikiran mengenai suatu permasalahan ataupun ilmu-ilmu tertentu. IMTEK (Ikatan Mahasiswa Teknik Kimia) Politeknik STMI Jakarta telah menyelenggarakan Focus Grup Diskusi dengan dua kali pertemuan, 8 Desember 2017 dan 14 Maret 2018. Berikut adalah hasil dari kedua forum tersebut.



Pada FGD 1 dengan tema "Komposit Ramah Lingkungan", memilih untuk membedah dua jurnal. Jurnal yang pertama mengenai “Pembuatan Polimer Komposit Ramah Lingkungan untuk Aplikasi Industri Otomotif dan Elektonik” .

1. Bahan yang digunakan, yaitu :
  • Serat daun nanas, yang merupakan bahan buangan atau limbah daun nanas.
  • Epoxy, polimer thermosetting yang mengeras apabila ditambahkan dengan katalis atau pengeras.
Dalam pembuatan polimer komposit tersebut, epoxy berperan sebagai matrik dan serat daun nanas sebagai filler. Dengan memvariasikan struktur serat  (teratur, anyam, dan acak) dan dengan berbagai perbandingan komposisi dari kedua bahan.

2. Metode Penelitian :
Dalam jurnal pembuatan polimer komposit tersebut, digunakan metode simple mixing, dimana polimer atau resin epoxy dan hardner dicampurkan dengan perbandingan massa.

3. Proses yang digunakan :
Hand Lay Up, dimana resin akan dituangkan dengan tangan ke dalam serat berbentuk anyaman, rajuan, atau kain, kemudian memberi tekanan sekaligus meratakannya menggunakan rol atau kuas. Metoda ini paling sederhana dan merupakan proses dangan metode terbuka dari proses fabrikasi komposit.

4. Analisa Karakteristik :
  • Uji Tarik

Pengaruh komposisi dan struktur serat terhadap kekuatan tarik, uji ini menggunakan standar ASTM- D638-type IV dengan hasil semakin besar komposisi epoxy, maka akan semakin besar nilai kekuatan tariknya, begitu pula sebaliknya. Struktur arah serat juga berpengaruh pada kekuatan tariknya. Bila arah seratnya berlawanan, maka kekuatan tariknya akan melemah.
  • Uji Impact

Hubungan antara fraksi berat serat dan energi impak mengalami kenaikan dan penurunan energi impak dari fraksi berat serat. Dan hasil yag didapat kekuatan impak terhadap fraksi berat serat adalah 20%.
  • Uji SEM (Scanning Electron Microssope)

Serat yang disusun secara teratur akan menghasilkan sifat mekanik yang baik, karena gaya yang akan berkerja searah.

5. Kekurangan :
Untuk kota seperti Jakarta, bahan yang digunakan adalah serat daun nanas dan keberadaannya kurang mencukupi.

6. Solusi :

Serat nanas bisa diganti dengan serat kelapa keran limbah serat kelapa sering di jumpai.
Karena dari judul adalah untuk aplikasi industri otomotif dan elektronik, maka seharusnya dilakukan pula uji panas.




Jurnal yang kedua mengenai “Pengaruh Variasi Arah Susunan Serat Sabut Kelapa terhadap Sifat Mekanik Komposit Serat Serabut Kelapa.”

1. Bahan dasar yang digunakan :
  • Serat serabut kelapa karena masih dalam kategori limbah yang belum banyak dimanfaatkan oleh skala industri sehingga perlu adanya pemanfaatan fiber  berpenguat serat alami.
  • Resin poliester.
  • Katalis MEKPO.
  • Aquades
  • Vaseline
  • Thiner

2. Peralatan yang digunakan :
  • Universal testing machine testometric DBBMTCL-2500 Kg
  • Mesin CNC
  • Timbagan digital

3. Analisa yang dilakukan :
  • Uji Tarik
  • Uji Lentur
  • Uji Kekuatan

4. Hasil :
Komposit serat sabut kelapa yang tegangan tarik tertingginya ialah komposit dengan arah susunan sejajar (0°), dan tegangan lentur tertingginya ialan komposit dengan arah susunan serat sejajar (0°) dan (45°)

5. Kekurangan :
Penggunaan resin poliester masih sedikit kurang pas, karena harganya yang relatif mahal. Untuk komposit yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan badan kapal masih diragukan karena ukuran kapal yang besar dan lingkungan sekitar berupa air sedangkan bahan dasar komposit tersebut adalah serat kelapa yang mudah menyerap air. Jumlah yang digunakan pun relatif sangat banyak.


Pada FGD 2, peserta diberikan dua jurnal dan melakukan sesi tanya jawab. Tema yang disampaikan adalah “Komposit Berbasis Limbah”. Berikut adalah hasil FGD 2.

Jurnal pertama berjudul “Pemanfaatan Limbah Batang Kelapa Sawit dan Plastik Daur Ulang sebagai Bahan Baku Papan Plastik Komposit”.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji kualitas komposit kayu plastik dari limbah padat dari perkebunan kelapa sawit berupa batang kelapa sawit (BKS) dengan matriks plastik polipropilena daur ulang (RPP/Recycle PoliPropilena).

RPP adalah thermoplastik resin yang bersifat hidrofobik yaitu sifat yang tidak mudah menyerap dan melepaskan air.

Bahan pengisi yang digunakan dalam penelitian ini adalah BKS dan dikonversi menjadi partikel dengan menggunakan hammer mill. Partikel yang dihasilkan selanjutnya diayak dan dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu lolos saringan p1 = 20 mesh, p2 = 40 mesh dan p3 = 60 mesh. Setelah itu, partikel dikeringkan dengan oven sampai mencapai kadar air (KA) <10%. RPP dengan ukuran 60 mesh digunakan sebagai matriks. Perbandinganmatriks dan bahan pengisi adalah 7:3. Maleic anhydride (MAH) sebanyak 5% dari berat matriks digunakan sebagai modifier dan benzoil peroksida (BPO) sebanyak 5% dari berat MAH dan digunakan sebagai inisiator.

Faktor ukuran partikel, penambahan modifier (Maleic Anhydride) dan inisiator (benzoil peroksida) pada suhu kempa (180 ⁰C dan 190 ⁰C) berpengaruh terhadap sifat fisis dan mekanis papan komposit (WPC) dari RPP dan partikel batang sawit dan tandan kosong sawit yang dihasilkan. Papan komposit yang memenuhi standar JIS A 5908-2003 yaitu pada pengujian fisis sedangkan pengujian mekanis, hanya MOR papan komposit dari partikel batang sawit yang memenuhi standar.

1. Berapa densitas papan komposit BTS?
Nilai rata-rata kerapatan papan plastik komposit dengan bahan pengisi BKS antara 0,80-0,87 g cm-3. Kerapatan papan plastik komposit pada suhu kempa 180 ⁰C secara umum lebih tinggi daripada 190 ⁰C.

2. Berapa Konsentrasinya?
Rasio RPP dan OPT atau EFB adalah 7: 3. Maleic anhydride (MAH) dan benzoil peroxyde (BPO) digunakan sebagai pengubah dan inisiator masing-masing sebesar 5% berdasarkan berat RPP dan MAH.

Kelebihan dari jurnal ini adalah sangat lengkap karena telah memuat segala informasi dari segi matrik, filler, inisiator dll.

Jurnal yang kedua mengenai “Karakteristik Fisis Papan Komposit Dari Serat Batang Pisang (Musa Sp.) Dengan Perlakuan Alkali”.

Papan komposi dari limbah batang pisang yang dimbil seratnya dapat menghasilkan papan komposit yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan JIS A 5904-1994 dan JIS A 5905-1994. Sifat fisis yang diperoleh dari penelitian ini adalah kerapatan papan komposit yang berkisar antara 0,55 g/cm3 – 0,80 g/cm3, sedangkan kadar air berkisar antara 8,68% - 14,61%, yang semuanya memenuhi persyaratan JIS. Sedangkan daya serap air terhadap perendaman 2 jam berkidar antara 52,57% - 211,05%, perendaman 24 jam berkisar antara 56-23% - 257,65%, pengujian ini tidak dipersyaratkan oleh JIS. Pada pengembangan tebal 2 jam diperoleh antara 14,37% - 67,86%, sedangkan pengembangan dalam 24 jam berkisar antara 21,48% - 97,96%, sifat ini tidak memenuhi persyaratan JIS A 5908-1994 (papan partikel), sedangkan JIS A 5905-1994 (papan serat) tidak dipersyaratkan. Dari penelitian ini dapat direkomendasikan bahwa serat batang pisang dapat digunakan sebagai alternatif bahan baku papan komposit pengganti kayu.

1. Bagaimana kondisi batang pisang yang di ambil?
Yang mendekati tua. karena, kadar air dalam batang sedikit

2. Apa alat pengering bahan tersebut?
Di press dengan mesin kempa dan oven

Kelebihan dari jurnal ini adalah serat dari limbah batang pisang  mudah di cari di Indonesia, mudah di dapatkan, dan jumlahnya sangat melimpah.

Dari kedua jurnal yang dibahas, dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan limbah untuk komposit sangat berpengaruh, karena jumlahnya yang banyak serta sebagai pengganti bahan kimia yang mahal. Penggunaan limbah dianggap efisien sebagai natural fiber.