Thursday, July 19, 2012

PERKEMBANGAN INDUSTRI POLYVINYL CHLORIDE (PVC) RESIN DI INDONESIA

Industri PVC resin di Indonesia tidak mengalami perkembangan berarti sejak tahun 2004. Kapasitas produksi PVC resin belum beranjak dari tingkat 602.000 ton per tahun. Kapasitas ini diperkirakan belum akan bertambah dalam beberapa tahun ke depan karena tingkat produksi saat ini masih di bawah kapasitas terpasang tersebut.

Industri ini masih berkutat dengan dan mahalnya ethylene yang merupakan bahan baku Polyvinyl Chloride (PVC). Mahalnya ethylene ini terkait dengan harga minyak bumi yang meningkat mencapai lebih dari US $ 70 per barrel sejak tahun 2005 dan tetap bertahan di posisi tinggi hingga saat ini.

Industri ini juga memiliki ketergantungan pasokan ethylene pada pasar internasional karena sebagian besar kebutuhannya saat ini masih diimpor. Satu-satunya produsen ehtylene di Indonesia adalah Candra Asri yang dalam setahun hanya mampu memproduksi 525 ribu ton, di bawah kebutuhan nasional yang mencapai 1,4 juta  ton. 

Sementara itu, produksi PVC resin terus meningkat sejak tahun 2003. Pada tahun 2003 produksi adalah 350.000 ton per tahun naik menjadi 400.000 ton per tahun pada tahun 2006.

Hingga tahun 2005, sebagian besar produksi diserap oleh permintaan domestik. Namun, pada tahun 2006 terjadi perubahan dimana pasar ekspor menyerap lebih banyak dari pasar domestik.

Berbeda dengan produk plastic resin lainnya, dalam pembuatannya PVC resin mengkonsumsi energi  yang sangat besar yang didapatkan dari listrik sehingga kenaikan harga bahan bakar untuk pembangkit listrik sangat mempengaruhi kinerja industri ini.

Kapasitas produksi dan produsen

Selama lebih dari 10 tahun terakhir Industri PVC resin di Indonesia praktis tidak banyak berkembang yakni masih tetap 5 produsen.. Hal ini tercermin dari jumlah perusahaan penghasil PVC resin belum berubah sejak pendirian  Satomo Indovyl Polimers (SIP) dan Siam Maspion Polymer (SMP) pada tahun 1995.

Kelima produsen PVC resin di Indonesia tersebut memiliki total kapasitas produksi pada tahun 2006 sebesar 588.000 ton per tahun. Kapasitas ini lebih rendah dari tahun 2004 yang mencapai 592.000 ton per tahun. Penurunan kapasitas terjadi pada Eastern Polymer dari 50.000 ton per tahun menjadi 36.000 ton per tahun. Sementara peningkatan terjadi pada Sulfindo Adi Usaha dari 70.000 menjadi 80.000 ton per tahun.

Upaya peningkatan kapasitas terbentur oleh masalah tidak terjaminnya pasokan bahan baku yang terjadi karena tingkat integrasi industri ini yang rendah. Seperti diketahui di Indonesia hanya ada satu produsen ehtylena yakni Chandra Asri yang kapasitasnya sudah penuh. 

Padahal, ethylena adalah salah satu bahan baku pembuatan PVC resin. Selain itu investasi di industri ini juga sangat tinggi karena industri ini padat teknologi. Dengan kondisi ini maka peningkatan kapasitas terkendala.

Eastern Polymer
Perkembangan industri PVC resin di Indonesia dimulai pada tahun 1976 ketika produsen pertama yakni Eastern Polymer (EP) yang didirikan di Cilincing Jakarta. 

EP merupakan perusahaan patungan PT Anugrah Daya Laksana Indonesia (50%) and  Mitsubishi Corpo¬ration and Tokuyama Co. Ltd. of Japan (50%). Pada tahun 1995 seluruh saham Tokuyama diambil alih oleh Mitsubishi. Pada bulan Februari 1998, proses produksi sempat terhenti karena permintaan PVC merosot akibat krisis ekonomi.

Kapasitas produksi EP sesuai izin dari Departemen Perindustrian adalah 50.000 ton per tahun, akan tetapi kapasitas produksi aktual EP saat ini adalah 36.000 ton per tahun yang dengan efisiensi mampu memproduksi hingga 42.000 ton per tahun. Efisiensi ini dicapai dengan pembersihan reaktor dengan bantuan bahan kimia sehingga lebih cepat.

Standard Toyo Polymer
Kapasitas produksi PVC bertambah setahun kemudian ketika Standard Toyo Polymer (Statomer) didirikan pada tahun 1977. Saham Statomer dimiliki oleh Toyo Soda Manufacturing Co. Ltd. (30%) and Mitsui & Co. of Japan (20%), PT Sempurna Catur Guna (40%) dan PT Blue Standard Polymer (10%). Kapasitas produksi Statomer adalah 87.000 ton per tahun. Plant milik Statomer berlokasi di Cilegon, Banten.

Salah satu pemegang sahamnya yakni Toyo Soda Manufacturing (Tosoh) dikenal sebagai perusahaan kimia terintegrasi. Tosoh memiliki beberapa grup usaha yakni petrochemical group yang dengan pabrik-pabriknya yang menghasilkan olefin dan polimer, basic group dengan pabrik-pabrik penghasil chlor alkali dan semen, specialty group yang memproduksi bahan kimia organik, special material, electronic material, dan scientific instrument. Selain itu Tosoh juga memiliki service group yang melayani logistik, warehousing, R&D, dan maintenance services.

Produk yang dihasilkan oleh Statomer semuanya dalam bentuk powder. Produk ini langsung dipasarkan ke pabrik-pabrik pengolahan PVC di Indonesia. Di antara konsumen Statomer Maspion lah yang terbesar. Maspion yang pabriknya berlokasi di Sidoarjo, Jawa Timur selama ini dikenal sebagai produsen alat-alat rumah tangga dari bahan plastik.

Asahimas Chemical 
Setelah lebih dari 10 tahun kapasitas produksi PVC resin di Indonesia kembali meningkat dengan kehadiran Asahimas Chemical (ASC) pada tahun 1989 yang merupakan produsen terbesar PVC resin di Indonesia hingga saat ini. Kapasitas produksi ASC sebesar 285.000 ton per tahun. 

Di atas lahan seluas 90 hektar di Cilegon, Banten ASC memiliki fasilitas terintegrasi yang juga memproduksi Caustic Soda (NaOH), Ethylene Dichloride (EDC), Vinyl Chloride Monomer (VCM), Hydrochloric Acid (HCl), Liquid Chlorine (Cl2) and Sodium Hypochlorite (NaClO). Kapasitas produksi VCM yang dimiliki ASC adalah 400.000 ton per tahun sedangkan EDC adalah 29.900 ton per tahun.

Pemegang saham ASC adalah Asahi Glass Company dan Mitsubishi Corp, Jepang. Awalnya Asahi Glass Company adalah produsen produk kaca seperti flat glass dan automotive glass dan display (Cathode ray tubes/ CRTs, Flat panel displays/ FPDs, dll).

Dalam perkembangannya perusahaan ini meluaskan usahanya dalam bidang kimia (Fluorochemicals,Chlor-Alkalis Urethane etc), serta elektronika dan energi (Semiconductor-related products,Optoelectoronics products,Frit and paste glass) pada tahun 2005.

Sulvindo Adi Usaha
Pada tahun 1995 terdapat dua pemain baru yakni Satomo Indovyl Polimers (SIP) dan Siam Maspion Polymer (SMP) masing-masing dengan kapasitas 70.000 ton dan 100.000 ton.

SIP mendapatkan izin dari BKPM pada tahun 1995 sebagai perusahaan patungan antara konglomerat Salim (50%), Tosoh Corp. (25%), dan Sumitomo Corp (25%).

SIP ini merupakan perluasan usaha Kelompok Salim pada bisnis petrokimia. Bisnis pertama Salim pada petrokimia adalah PT. Indochlor (1977) yang pada tahun 1995 diganti namanya menjadi PT. Sulfindo Adi Usaha (SAU). Perusahaan ini memproduksi chlorine dan caustic soda. Salim memiliki saham sebesar 95 persen pada perusahaan ini.
Perluasan usaha Salim yang lainnya adalah PT. Satomo Indovyl Monomer (SIM) yang didirikan pada tahun 1995 memproduksi Ethylene Dichloride (EDC) dan Vinyl Chloride Monomer (VCM). Salim mengontrol 51 persen saham pada perusahaan ini. 

Setelah krisis ekonomi tahun 1997, Salim menjaminkan seluruh kepemilikannya atas tiga perusahaan ini kepada Badan Penyehatan Perbankan Nasional guna menyelesaikan hutang-hutangnya. Selanjutnya, dalam skema restrukturisasi hutang, pada tahun 2001 aset ini kemudian dijual dengan nilai kepada US $ 41,2 juta Durability yang dimiliki Grup Emperor (Hongkong).

Durability kembali memperbesar kepemilikan sehingga komposisi menjadi Durability 74,29 persen, Sumitomo 25 persen, dan sisanya 0,71 persen oleh Timsco. Durability kemudian menggabungkan ketiga perusahaan ini yakni SIP, SIM, dan SAU. Nama SIP kemudian dihapuskan dan diganti dengan SAU. Kapasitas yang semula 70.000 ton per tahun ditingkatkan menjadi 80.000 ton per tahun. Dalam produksinya SAU mengunakan teknologi suspension polymerization yang dilisensi oleh Tosoh Corp.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

thanks for your coment ^^